"Butir-Butir Perlawanan Edisi #2"


II. KEMELUT PERLAWANAN

“Siapapun yang menganggap ibadah  i’dad sebagai terorisme adalah bentuk pelecehan terhadap Allah, Rasul, dan ayat-ayat-Nya, dan menuduh Allah sebagai biang terorisme, karena i’dad perintah Allah dan Al-Qur’an. Hal ini termasuk perbuatan kufur.” (Eksepsi Ust. Abu Bakar Ba’asyir,          5 Maret 2011, di PN Jakarta Selatan)

             Akhirnya terbukti, Fir’aun Amerika telah menjadi tuhan selain Allah yang tertawa di hadapan 200 juta penduduk Indonesia. Dengan gayanya yang tidak lazim: “Carrots and Stick”,  anginnya ditakuti oleh thaghut negeri ini, tujuannya agar akibat dari kekalahan Fir’aun Amerika dan antek-anteknya tidak ditanggung oleh mereka sendiri, melainkan oleh umat manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

            Di sisi lain penguasa Indonesia telah menipu umat Islam dan berwali kepada para Salibis dengan cara mengaku masih berada di atas Islam. Yang memperparah penipuan ini adalah perekrutan ulama dan intelektual muslim – menganggap dirinya paham dan berilmu – dalam rangka meredam reaksi umat Islam. Ulama Su’ ini memerintahkan untuk membolehkan menyebut para penjajah itu sebagai “ulil amri” kaum muslimin.

Memerangi Jihad

            Seharusnya mereka yang mengaku umat Islam Indonesia, bertanya kepada para thaghut negeri ini: “Manakah yang lebih berbahaya terhadap jihad: 1. Ketika pemerintah menggunakan media massa yang dibayar untuk menyerang jihad? Ataukah 2. Ketika penguasa menggunakan ulama, kiayi, ustadz, ormas dan orpol Islam, untuk melakukan hal yang sama?”

            Tidak diragukan bahwa menggunakan tangan para ulama, kiayi, ustadz, jama’ah, ormas, dan orpol Islam dalam menyerang jihad lebih berbahaya, karena mereka memalingkan dari jalan Allah dengan mengatasnamakan dakwah ilallah.  Sehingga mereka mengelabui umat Islam yang lemah iman dan sedikit ilmunya. Lebih licik lagi, ketika para thaghut negeri ini mulai takut dan mengkhawatirkan kekuasaannya dari jama’ah yang istiqomah menegakkan syari’at Islam, tak jarang mereka memberikan jabatan kepada segolongan umat Islam yang notabene memiliki perahu politik. Tujuannya untuk mengaburkan pandangan umat Islam dan menyerang jihad dengan mengatasnamakan Islam.

            Belakangan mereka mulai menyadari – setelah mengerti betapa bahayanya menghadapi Islam dengan permusuhan frontal – untuk memecah belah barisan kaum muslimin, dan memalingkan mereka dari kewajiban syar’i dan fardhu ‘ain, yaitu berjihad melawan para salibis yang berkuasa di Indonesia. Salah satu sarana penting adalah menyemarakkan dakwah yang dipermak sedemikian menarik.

            Gerakan memarangi jihad ini mulai membuahkan hasil. Pertama,  umat Islam meninggalkan pilar utama akidahnya. Khususnya pilar kepasrahan untuk menggunakan hukum Allah dan menggantinya dengan hukum Jahiliyah demokrasi dalam masalah tasyri’ (membuat undang-undang). Kedua, Umat Islam sudah “membuang” ajaran jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, yaitu melawan pemerintahan murtad yang menguasai negeri kaum muslimin, khususnya Indonesia. Lebih dari itu, umat Islam berusaha memusuhi jihad, menganggap bodoh siapa saja yang mengajak untuk berjihad, mencaci maki dan menyeru pemerintah thaghut untuk memberantasnya serta menyatakan diri tidak terlibat dengan jihad di hadapan para thaghut itu.

            Dengan BNPT-nya, thaghut negeri ini mengajak elemen umat Islam agar terbiasa mengecam “aksi-aksi kekerasan”, dan mematuhi aturan buatan manusia dan peraturan yang mengingkari hak Allah swt, Sang Penguasa dalam masalah tasyri’ untuk hamba-Nya. Akhirnya ulama su’ itupun berhasil memanfaatkan semangat para pemuda muslim untuk direkrut ke dalam barisannya dan masuk ke “mesin pendingin” nya, sehingga gelora semangat Islam untuk berjihad melawan thaghut berubah menjadi acara-acara dari ajang pemilu ke pemilu berikutnya.

NeoGhassan

            Tidak sadarkah wahai kaum muslimin dan ulama su’: Masuk akalkah kalau mayoritas penghuni tahanan di negeri yang mayoritas muslim ini adalah orang-orang Islam yang berjihad dan komitmen beragama? Masuk akalkah jika jihad  dianggap sebagai sebuah tindakan kejahatan yang pelakunya akan menerima perlakuan kejam dari penguasa yang mengaku muslim? Sampai terbayangkah dalam benak kita kalau pemerintah yang mengaku muslim itu menyerahkan rakyatnya sendiri kepada kaum salibis: Gorys Mere dan konco-konconya ?

            Perhitungan sederhana bagi mereka yang merasakan pedihnya penjara thaghut Indonesia, akan menyimpulkan bahwa musuh pertama dari pemerintahan negeri ini adalah jihad dan mujahidin serta siapa saja yang menyatakan kebenaran apa adanya, hanya takut karena Allah, tidak takut celaan orang-orang yang mencela. Mereka akan diboikot, ditangkap, diasingkan atau diserahkan kepada kaum salibis. Apa yang dilakukan Thaghut Soeharto terhadap umat Islam dahulu, saat ini terulang kembali bahkan semakin menjadi-jadi dengan berbagai bentuk dan namanya. Ketika Fir’aun Amerika dan Australia meneriaki pemerintahan SBY, mereka langsung bermanis muka agar mendapat simpati. Kondisi ini persis seperti apa yang dikatakan Allah, “… kami khawatir tertimpa musibah…” (QS. Al-Maidah: 52)  sebagian lagi seperti firman Allah, “Tidakkah engkau perhatikan orang-orang munafik  yang mengatakan kepada saudara-saudaranya, yaitu orang kafir dari ahli kitab: “Kalau kalian keluar berperang, kami akan turut berperang bersama kalian, dan kami tidak akan menaati siapapun untuk mencelakakan kalian, dan kalau kalian diperangi, kami pasti akan membantu kalian. Dan Allah bersaksi, bahwa mereka itu benar-benar dusta.” (QS. Al-Hasyr: 11)

            Umat Islam Indonesia rupanya tengah dipimpin oleh  suku  NeoGhassan. [1] Pada era di mana bangsa Arab meninggalkan kabilah-kabilahnya, suku ghassan berhasil mengalahkan saudaranya, suku dhaja’imah. Lalu bangsa Rum mengangkat suku Ghassan sebagai boneka raja-raja Romawi sampai meletus perang Yarmuk tahun 1311 M, zaman kekhalifahan amirul mukminin Umar bin Khaththab yang kemudian berhasil mengalahkan suku Ghassan.

            Fakta di atas menunjukkan, betapa gawatnya kondisi umat Islam Indonesia saat ini. Para ulama, intelektual, ormas, dan orpol Islam sebenarnya tidak mampu melaksanakan  kewajiban menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin. Mereka justru sedang melaksanakan program Fir’aun Amerika  dan Australia melalui tangan salibis laknatullah ‘alaihim: Gorys Mere dengan senjata barunya, BNPT.

Mereka  berjalan menuruti hawa nafsu pribadi dan hubungan kesetiaannya kepada bangsa Salib. Mereka beriman kepada sebagian Al-Qur’an dan kufur kepada sebagian yang lain, tergantung yang cocok dengan hawa nafsu dan  bisa melindungi keberlangsungan kekuasaannya. Ini jelas kufur akbar. “Apakah kalian beriman kepada sebagian isi Al-Kitab dan mengkufuri sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang melakukannya selain kehidupan di dunia, dan pada hari kiamat mereka akan dikembalikan kepada azab yang paling pedih dan Allah tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan. “ (QS. Al-Baqarah: 85)

Dengan kata lain, ‘Ubudiyah   menjadi milik penguasa bukan lagi milik Allah. Penguasa menjelma menjadi berhala yang disembah  dan menutupinya dengan kedok parlemen dan Demokrasi. Berhala-berhala inilah yang menjadikan kita jatuh pada titik terendah, karena tidak lagi memeiliki pemahaman  utuh tentang dienul Islam.  

 

II.  BENIH – BENIH PERLAWANAN

“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.” Maka Nuh mengadu kepada Rabb-nya: “Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah aku.” (QS. Al-Qamar: 9-10)

            Menurut beberapa riwayat kelompok muslim yang menjadi pengikut Nuh as., berjumlah 12 atau 40 orang. Mereka hasil dakwah nabi Nuh selama 950 tahun. Buah umur panjang dan jerih payah yang lama itu berhak menjadi alasan Allah untuk mengubah fenomena alam, satu-satunya pewaris bumi, benih kemakmuran dan pimpinan baru pada masanya.

            Sayyid Quthb [2] , mengingatkan kepada kita tentang perjuangan dakwah dan jihad Nuh as., “Sungguh tidak sepatutnya bagi orang yang menghadapi jahiliyah dengan Islam berprasangka bahwa Allah akan membiarkannya menjadi mangsa jahiliyah padahal dirinya menyerukan penauhidan Allah swt dengan ketuhanan-Nya. Sebagaimana ia juga tidak patut untuk membandingkan kekuatan pribadinya dengan kekuatan-kekuatan jahiliyah.”

Karenanya sekelompok kecil  pengikut Nuh as tersebut di neraca Allah sebanding dengan penaklukkan-penaklukkan kekuatan alam yang maha dahsyat, Pembinasaan seluruh       

manusia yang sesat, dan pewarisan bumi kepada kelompok manusia yang baik, khalifah fil ardh.  Al-Quran menyatakan, “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air – mata air maka berkumpullah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11-12)

Benih-Benih Kebenaran

            Adanya benih muslim di bumi  merupakan sesuatu yang begitu berarti di neraca Allah, sesuatu yang menjadikan Allah layak untuk menghancurkan jahiliyah, negerinya, kemakmuran, akar-akar, kekuatan-kekuatan, dan simpanan-simpanannya. Sebagaimana Allah juga menjadikan muslim laiak untuk dipelihara sebagai benih dan merawatnya agar tetap sehat, berkembang, mewarisi bumi, dan memakmurkannya kembali.

            Benih muslim itu hakikatnya pionir kebangkitan Islam yang tengah menghadapi jahiliyah universal di seluruh muka bumi, yang sedang merasakan keterasingan dan kesendirian, yang tengah merasakan sakit, pengusiran, penyiksaan, dan permusuhan. Namun mereka tetap tegar, tidak peduli dengan segala keterbatasan peralatan dakwah, jihad, dan jumlah pasukan yang mendukungnya. Bahkan mereka tidak peduli dengan besarnya kekuatan musuh.

            Rahasia kemenangan para mujahid dakwah  ilallah itu antara lain: Pertama, memegang amanah dan kehormatan Dienul Islam [3].  Seperti yang terjadi pada Abu Ayyub Al-Anshari ra. yang wafat ketika tentara Yazid bin Mu’awiyah sedang menyerang Konstantinopel.

Ia mengharap kepada Allah ta’ala agar dijadikan sebagai lelaki yang shalih, seperti yang disabdakan Rasulullah saw:

“Di sisi pagar kota Konstantinopel akan dimakamkan jasad seorang lelaki yang shalih.” Melihat jenazah Abu Ayyub akan dimakamkan, Kaisar Romwai marah besar: “Kami akan mengeluarkan dan menjadikannya sebagai santapan anjing-anjing kami.” Dengan lantang Yazid berteriak, “Sesungguhnya engkau adalah kafir terhadap orang yang saya muliakan ini. Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia, sesungguhnya saya adalah orang yang sangat memuliakan para sahabat Rasulullah saw., jika kuburannya digali atau jasadnya dicincang, maka saya akan bunuh setiap orang Nasrani dan menghancurkan setiap gereja yang ada di Negara-negara Islam.”  Karena rasa takut si Kaisar Romawipun berubah pikiran dan menjaga jenazah sang mujahid, “Demi Allah, sesungguhnya saya sendiri yang akan menjaganya, jika saya tidak menemukan orang yang menjaganya.”

Kedua, komitmen terhadap sunnah [4]. Dalam sebuah peperangan yang digencarkan kaum muslimin di Turki, terjadi pengepungan panjang terhadap salah satu benteng pertahanan Turki, sehingga kaum muslimin jenuh dan bosan. Setelah dikoreksi oleh sang panglima, dari perkara yang ikhlas pada Allah ta’ala, hal yang wajib sampai yang sunnah. Ternyata panglima sadar, bahwa tidak seorangpun dari kaum muslimin yang membawa dan melakukan siwak sebelum sholat. Dengan terpaksa mereka menggunakan dahan dan ranting-ranting pohon sebagai ganti bersiwak. Sementara itu tidak seorangpun di antara mereka mengetahui bahwa ada mata-mata musuh yang menyusup di tengah-tengah kaum muslimin.

Untuk pertama kalinya mata-mata itu melihat kaum muslimin bersiwak, hal ini membuat ketakutan sehingga melaporkan pada kaumnya: “Sesungguhnya kaum muslimin telah mengasah gigi mereka untuk menyantap kita!!!” Berita itu membuat kaum kafir sangat dirasuki ketakutan. Allah telah menancapkan rasa takut dan gentar dalam hati mereka sehingga benteng pertahanannya berhasil ditaklukkan.

Ketiga, karakter umat yang menang [5]. Setelah kekalahan yang diderita pada peperangan Yarmuk, Kaisar Romwai sangat marah terhadap para panglimanya, karena jumlah pasukan mereka lebih banyak. Kaisar bertanya, “lantas mengapa kalian kalah?” Salah seorang petinggi senior mereka angkat bicara, “Karena mereka senantiasa bangun untuk sholat di malam hari, memnuhi janji, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan berbuat adil sesama mereka. Adapun kita? Kita adalah peminum khamer, pezina, suka melakukan perkara yang haram, melanggar janji, berbuat zhalim, menyeru kepada kekejian, mencegah sesuatu yang diridhai Allah dan melakukan kerusakan di bumi!!!” Heraklius berkata, “Sesungguhnya kamu telah mengatakan yang sebenarnya.”

Benih-Benih Kebathilan

            Sepanjang sejarah, empat serangkai kebathilan: kekufuran, kemunafikan, Yahudi, dan Nasrani [6]  selalu muncul dan meneruskan perlawanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka: Persia dan Romawi  sebagai dua kutub utama kekufuran, kesesatan, kerusakan, kesombongan dan permusuhan.

            Pertama, Kekufuran. Yang membuat orang-orang Kafir Qurays baik jahiliyah dahulu atau sekarang mengadakan perlawanan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul adalah mental fanatik buta dan kesombongan setan,   yang disebabkan ingin selalu berada di lapisan teratas masyarakat. Mereka menyesal mengapa Al-Qur’an diturunkan kepada seorang lelaki miskin  bernama Muhammad bin Abdullah. Mengapa tidak diturunkan kepada bangsawan mereka Walid bin Mughirah, atau bangsawan Thaif, Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi? Rupanya mereka terekam dalam Al-Qur’an, “dan mereka berkata, mengapa Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah & Thaif) ini ?” (QS. Az-Zukhruf: 31).

Kedua, Kemunafikan yang nampak pada Abdullah bin Ubay bin Salul al-Aufi yang berpendapat bahwa Rasulullah saw telah merampas kekuasaan darinya. Benih ini lebih berbahaya dari pertama, karena “api dalam sekam”. Ia tidak mungkin memerangi Rasulullah saw atau memusuhinya secara terang-terangan, karena mayoritas penduduk madinah bergabung di bawah panjinya. Ia juga tidak mungkin tetap dalam kekufuran, karena justru akan mengucilkan dirinya sendiri dalam masyarakat, bahkan anaknya sendiri. Namun ia bisa melakukan tipu daya, merencanakan pengkhianatan dan melakukan serangan mematikan, hingga api dendam dan dengki dapat terpadamkan. Rasulullah menggambarkan,         “Perumpamaan orang-orang munafik seperti domba, terkadang ke sana dan terkadang ke satunya lagi.”  Hadits ini selaras dengan firman Allah, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman / kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang-orang kafir).

Barangsiapa yang disesatkan Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk member petunjuk) baginya.” (QS. An-Nisa: 143).

  Ketiga,  benih perlawanan dari kaum yang telah dibutakan Allah: Yahudi [7].  Kaum yang oleh sejarawan R.F. Boudly dikatakan sebagai kaum yang selalu terusir dari  zaman ke zaman, kaum yang “mencaplok” Palestina dengan kekerasan dan akhirnya terusir oleh kaisar Romawi, Titus. Lalu mereka menempati Yatsrib (nama sebelum madinah, yang diberikan oleh tiga kabilah Yahudi: Bani Qaynuqa, Quraizhah, dan Nadhir) Kaum yang membodohi suku-suku Arab dengan konglomerasi riba yang keji. Sampai datang Rasulullah saw yang membangkitkan agama baru, mereka tetap iri dan dengki karena kendali perdagangan dan pertanian yang sebelumnya mereka kuasai, diambil alih oleh umat Islam. Kaum yang oleh Rasulullah saw dikatakan, “orang-orang Yahudi tidak dengki kepadamu karena sesuatu, mereka dengki karena ucapan salam dan ucapan amin (setelah membaca al-fatihah dalam sholat),” (HR. Ibnu Hibban no: 856).

Keempat,  benih perlawanan dari kaum yang bersaksi bahwa agama Islam adalah bathil dan keyakinan yang dianut oleh Kafir Qurays adalah kebenaran. Mereka adalah kaum Nasrani [8] Seperti Allah firmankan dalam  QS. An-Nisa: 51, Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari kitab? Mereka percaya kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” Mereka sesungguhnya kaum yang paling memiliki dendam kesumat kepada kaum Yahudi seperti kasus “hukuman bakar” yang dilakukan oleh Dzu Nuwas al-Humairi, penguasa Yahudi yang membakar kaum Nasrani Najran agar memeluk agama Yahudi. Mereka adalah kaum yang berkeinginan di jazirah Arab tidak ada madzhab atau agama lain selain Nasrani. Merekalah kaum yang sengaja melestarikan paganisme dengan cara memperjual belikan patung-patung  kepada kaum musyrik untuk disembah. [9] Merekalah kaum (Abu Abdu Amru ibnu Shaifi alias Abu Amir)  yang berkonspirasi dengan Heraclius serta orang-orang munafik untuk membuat  mesjid Dhirar dalam menghancurkan dakwah dan jihad Rasulullah saw. [10] Mereklah kaum (Sajah binti Harits dari Bani Yarbu, anggota Bani Tamim yang paling dekat dengan Persia) yang mengumandangkan  nabi palsu, seperti celoteh Uyainah Ibnu Hishna, pimpinan kaum Murtad, ”Nabi perempuan dari Bani Yarbu lebih baik dari Bani Qurays, Muhammad telah mati dan Sajah masih hidup.”[11]

Benih Kebathilan Indonesia

            Sistem Jahiliyyah Pancasila dan syistem Musyrik Demokrasi, hakikatnya diusung oleh Empat Serangkai Kebathilan: Musyrik Paganis Hindu-Budha, Murji’ah Versi Kolonial, Konglomerasi Yahudi, dan Konspirasi Laskar Kristus. Perang mereka terhadap Islam dan umatnya merupakan produk dari fase sejarah yang panjang, konstan, dan akan selalu digaungkan, sehingga baru berhenti bila umat Islam di Indonesia telah murtad secara total dari Dienul Islam.

            Musyrik Paganis Hindu-Budha  kini tetap eksis, meskipun telah diperangi sejak generasi mujahid dakwah pertama kalinya menginjakkan kaki di Nusantara. Walaupun mujahid dakwah itu telah berhasil mendirikan sistem “Mulukuth Thawaif “ versi Indonesia, tetapi berkat konspirasi laskar kristus dan konglomerasi Yahudi, akhirnya sistem kerajaan-kerajaan Islam hancur. Ironisnya, yang tersisa adalah Islam yang diusung oleh Murji’ah Versi Kolonial, dengan tidak memiliki rasa malu mereka mengatasnamakan “warisan” para wali.

            Mengapa demikian ? Bukankah yang membuat patung-patung dan berhala-berhala yang disembah oleh musyrik paganis Hindu-Budha adalah kaum Yahudi dan Laskar kristus? Bukankah pula, yang melanggengkan tradisi nenek moyang yang nota bene Musyrik Paganis Hindu-Budha: Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat (TBC) adalah kaum Murjiah Versi Kolonial? Karenanya untuk melindungi ibadah kaum musyrik paganis Hindu-Budha, Murjiah Versi Kolonial, Konglomerasi Yahudi, dan Konspirasi Laskar Kristus, maka secara bulat dipilihlah folosofi wangsit dari Prapanca dan Tantular yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian dilindungi oleh berhala Namrudz modern: Pancasila. Bersyukur Allah mentakdirkan untuk tidak mengizinkan disahkannya tujuh kata dalam sila pertama Piagam Jakarta. Karena kitapun tahu, tidak mungkin Syariat Islam bisa ditegakkan di atas prinsip Free Masonry-nya (Khams Qanun) Soekarno.

            Perlawanan terhadap sistem warisan Musyrik Paganis Hindu-Budha (Pancasila) sampai kini masih terus berlangsung. Sejak HOS Cokroaminoto (SI),  Kartosuwiryo (DI/TII), Muhammad Natsir (DDI), Abu Bakar Ba’asyir (JAT), Abu Jibril (MMI), Rizik Shihab (FPI), perlawanan parlemen (PKS), sampai gerakan penyadaran umat (HT Indonesia). Jutaan jiwa syuhada telah menghiasi negeri ini dalam rangka menegakkan syariat Islam, ratusan konspirasi keji telah digelar oleh Konglomerasi Yahudi, Laskar Kristus, dan Murjiah Versi Kolonial untuk memberantas gerakan dakwah wal jihad.

            Namun di penghujung munculnya Ashabu Raayati Suud, Pasukan Panji Hitam Imam Mahdi,  kita dikejutkan dengan munculnya kelompok Murjiah Modern  yang bernaung di ketiak Thaghut Indonesia, bahkan tidak malu-malu mengatasnamakan “Salafi”, mereka giat membela Thaghut Indonesia dengan cara memerangi saudaranya sendiri lantaran mengusung tegaknya syariat Islam.(Ansharuttauhid.net)

Bersambung InsyAlloh......!!!


[1]     DR. Jabir Qamihah,  Musuh-Musuh Islam, Jakarta, Qisthi Press, 2004, hal. 21-66

[2]     Sayyid Quthb: Fikih Pergerakan, Yogyakarta, Uswah, 2007, hal. 289

[3]     Hamid bin Ahmad Ath-Thahir, Di bawah Kilatan Pedang: 101 Kisah Heorik Mujahidin,Solo, Jazeera, 2007 hal. 188

 [4]     Ibnu Dahlan, Al-Futuhat Al-Islamiyah: I/425, Idem, hal. 189

[5]     Ibnu Dahlan, Al-Futuhat Al-Islamiyah:  VII/132, idem, hal.190

[6]     Op.cit., hal. 21-66

[7]     R.F. Boudly, ar-Rasul: Hayatu Muhammad, 148,  idem, hal 46.

[8]     Al-Maqrizi, Imta’ al-Asma’: 215-220, idem, hal. 66

[9]     Jawad Ali, Tarikh al-Arab Qabla al-Islam: 6/244, idem,  hal.78

[10]    Tafsir Ibnu Katsir: 4/68, idem,  hal, 79

[11]     Aqad, Abqariyyatus Shiddiq: 149, idem,  hal. 80

 

"Negara yang berdasarkan idiologi Ciptaan manusia seperti Negara Nasionalis, Sosialis, Demokrasi, Pancasila dll adalah bentuk negara Bid'ah Mukaffiroh (Bid'ah yg menjerumuskan kepada Kekafiran) yg direkayasa oleh kafir Zionis Yahudi untuk mengotori Aqidah umat islam dan untuk memisahkan Ummat Islam dari Al Qur'an dan Sunnah." (eds 05)



Publikasi

"Negara yang berdasarkan idiologi Ciptaan manusia seperti Negara Nasionalis, Sosialis, Demokrasi, Pancasila dll adalah bentuk negara Bid'ah Mukaffiroh (Bid'ah yg menjerumuskan kepada Kekafiran) yg direkayasa oleh kafir Zionis Yahudi untuk mengotori Aqidah umat islam dan untuk memisahkan Ummat Islam dari Al Qur'an dan Sunnah." (eds 05)



Akhbar

 

JamaahAnsharutTauhid

Aqidah dan Manhaj

Berikut ini adalah aqidah dan manhaj Jama’ah Ansharut Tauhid, yang menjelaskan mengenai jati diri kami dan apa-apa yang kami sepakati
more »

Profil JAT

Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya telah memerintahkan umat manusia agar hidup berjama’ah, berkumpul, saling membantu, saling
more »

Khiththoh JAT

Khiththoh ini sebagai rencana induk (masterplan) jama’ah yang merupakan wujud nyata dari keyakinan bahwa Diinul Islam mengajarkan
more »

Kontak JAT

Sekretariat: Jl. Semenromo no.58, 04/XV Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah.
telp. 0271-2167285
Email: info@ansharuttauhid.com