Refleksi Ramadhan 1433 H "Jamaah Ansharut Tauhid"


Segala pujaan dan pujian bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan tidak ada tuhan selainNya. Karena dengan curahan segala nikmat dariNya-lah maka kita semua masih bisa menghirup udara kehidupan dan kehangatan sinar mentari ciptaanNya.

Sholawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada makhluq yang mulia, penutup kenabian, yaitu Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam yang telah menunaikan Risalah, menyampaikan amanah dan meninggalkan tuntunan dan bimbingan yang sempurna dan lengkap bagi kaum muslimin berupa Diinul Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Sejarah Panjang Kemanusiaan

Sejak Nabi Adam ‘alaihissalam direncanakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjadi Khalifah di muka Bumi, melalui Al Qur-anul Kariim kita mengetahui adanya permusuhan abadi dari Iblis yang tidak mau menerima ketetapan Alloh Subhanahu wa Ta’ala tersebut.  Hingga Iblis dihukumi sebagai makhluq yang enggan, sombong dan ingkar, singkatnya ia divonis kafir dan menjadi pelopor serta gembongnya kekufuran. Maka Iblispun berikrar akan terus menyeret Bani Adam kepada kukufuran dan memimpin permusuhan terhadap para Utusan Alloh yang dibangkitkanNya untuk membimbing manusia kepada kebenaran. 

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan".(QS. Al An’aam: 112)

Manusia tinggal memilih dengan kebebasan berfikir, berkeinginan dan bertindak yang dikaruniakan Alloh kepada manusia, apakah mereka memilih keimanan dengan mengikuti ajaran para Nabiyulloh atau justru menempuh jalan kekufuran yang dibentangkan Iblis.

Perhatikanlah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. Al Insaan: 2-3)

Konsekwensi dari kebebasan yang dikaruniakan Alloh Jalla wa ‘Alaa inilah maka manusia harus mempertanggungjawabkannya di hadapan MahkamahNya kelak. Yang mana hal ini juga mengakibatkan terbelahnya manusia menjadi dua faksi besar, yakni Ummat Islam dan Ummat Non Islam alias Kelompok Kafir. Ummat Islam dalam Al Qur-an disebut Hizbulloh karena mengikuti ajaran Alloh yang disampaikan oleh para Nabiyulloh sedangkan Kelompok Kafir disebut Hizbussyaithon, karena mengikuti ajakan, bujuk rayu dan tipu daya Iblis sebagai biangnya segala jenis Setan.

Sedangkan Iblis dalam ikrarnya sebagaimana yang difirmankan Alloh, akan berupaya menyeret manusia agar menemaninya kelak didalam neraka Jahannam yang kekal selama-lamanya, yakni:

“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya". Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung (pemimpin) selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An Nisaa’: 119)

Bahkan Iblis membangun struktur kejahatannya tersebut agar dengan mudah menyelenggarakan ambisi keji untuk menjebak manusia agar semakin tersesat kehidupannya di dunia sehingga masuk neraka bersamanya.

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqoroh: 257)

Pendeknya, Iblis dan kaum kuffar bersamanya akan terus menerus tanpa kenal henti dengan menanggung segala keletihan bahkan kerugian, selalu berupaya menyesatkan Bani Adam. Maka inilah musuh kemanusiaan sesungguhnya (the real enemy), kesadaran akan fakta ini yang bahkan telah menjadi bahagian dari pohon sejarah peradaban manusia, semestinya membuat manusia kembali kejalan yang ditunjukkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar mampu berlindung dari tipuan dan kejahatan Syaitan secara sempurna. Hal ini jadi kebutuhan mutlak disebabkan karakter Iblis yang konsisten dalam misi jahatnya dan ditunjang berbagai kemampuan serta usia yang panjang hingga kiamat, maka akan sangat sulit bagi manusia untuk dapat menghindari rekayasa Iblis kecuali bagi mereka yang mampu menyerahkan diri secara total kepada Alloh dengan menerapkan secara kaffah ajaranNya.

Firman Alloh:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqoroh: 208)

Inti Kekafiran

Iblis divonis Alloh menjadi kafir bukan lantaran dia menolak mempercayai wujud dan kekuasaan Alloh, namun karena iblis menolak kehendak dan ketetapan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, ‘kepandaian’ yang dikaruniakan Alloh kepada iblis tidak digunakan untuk menambah kepatuhannya kepada Alloh tapi justru menyombongkan diri dan enggan mematuhi perintah Alloh. Iblis menyalahkan perintah Alloh agar ia sujud tahniah/penghormatan kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Iblis beralasan dengan ‘keutamaan’ api atas tanah sebagai bahan penciptaan dirinya dan Nabi Adam.

Maka Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر، قال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسناً ونعله حسناً، قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن الله جميل يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس.

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Maka logika syaithoniyah yang dipakai Iblis dan menyebabkan kekafirannya jugalah yang ia hembuskan kepada Bani Adam untuk menolak Hak Uluhiyatulloh yakni kewajibah manusia untuk mentauhidkan Alloh dalam ibadah, dimana konsep keimanan didistorsi sedemikian rupa hingga hanya terbatas pada pengakuan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta keluar dari ajaran nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. 

Padahal garis pemisah antara orang – orang bertauhid dengan orang – orang musyrik adalah bahwa kaum musyrikin tidak menentang Rubbubiyatulloh yang mengandung keyakinan Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagai Pencipta, Pemilik , Penguasa atau apapun yang tersimpul dalam makna Ar Rabb namun mereka menentang kalau peribadatan ditegakkan hanya untuk Alloh saja. Dimana hakekat penting peribadatan itu tersimpul dalam dua hal , yakni at Tho’ah wat Tahakum (kepatuhan dan berhukum).

At Tho’ah dalam pengertian sebagai sikap setiap individu yang harus mengikatkan diri pada kepasrahan dan kerendahan di hadapan Alloh Azza wa Jalla sedangkan At Tahakum adalah sikap manusia sebagai komunitas sosial dalam berbagai tingkat dan bagian untuk menjadikan Syari’at Alloh sebagai satu-satunya hukum yang berlaku pada mereka . Intinya, bahwa peribadatan tidak bisa hanya dianggap sebagai hubungan kepada Al Kholiq semata namun peribadatan juga mencangkup urusan hidup kebersamaan dalam sebuah masyarakat .

Maka Iblis dan balatentaranya dari kalangan kuffar dan musyrikin tidak akan pernah rela dan berdiam diri jika melihat manusia kembali kepada fitrah tauhidnya secara lurus dan benar. Perhatikanlah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Namun mereka hendak berhakim kepada thaghut (yaitu orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu dan berpaling dari hukum Alloh juga berarti berhala-berhala). Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An Nisaa’: 60)

Perlawanan Kaum muslimin terhadap Kekufuran

Berdasar hal diatas inilah maka ummat Islam bergerak untuk menyelamatkan diri dan kemanusian secara umum, yakni dengan mengaktualkan potensi dan kemampuannya untuk mendakwahkan Islam sebagai metode kehidupan (the way of life) bahkan kaum muslimin rela mengorbankan harta dan dirinya untuk berjihad fii sabilillah agar Alloh Azza wa Jalla menjadi ridho terhadap mereka.

Karena ummat Islam adalah kumpulan orang-orang yang telah dengan sadar berdasarkan pengetahuan dan sikap konsekwen menyatakan ketiadaan tuhan yang berhak disembah selain Alloh dan mengakui kerasulan nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Mereka paham bahwa keberadaan mereka adalah untuk mengajar dan mengejawantahkan ketauhidan Alloh Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dihadapan kemanusiaan, sehingga di akheratpun nanti, mereka akan menjadi saksi bagi para Nabi bahwa tauhid telah disampaikan.

Visi utama gerakan ummat Islam adalah menjadi Khalifatuloh Fiil Ardh (Penguasa yang menjalankan Syari’at Alloh di muka Bumi) agar dapat menyebarkan rahmat Alloh keseluruh alam (rahmatan lil ‘alamiin). Sedangkan untuk mencapai visi ini, kaum muslimin harus menyelenggarakan misi-misi sebagaimana disampaikan Ruba’i bin Amr rodhiyallohu ‘anhu, yakni:

الله ابتعثنا لنخرج من شاء من عبادة العباد إلى عبادة الله وحده

ومن ضيق الدنيا إلى سعة الدنيا والآخرة

ومن جور الأديان إلى عدل الإسلام

Yang artinya kurang lebih:

  1. Alloh membangkitkan kaum muslimin untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba kepada penghambaan terhadap Alloh semata-mata.
  2. Membebaskan manusia dari kesempitan dunia kepada kelapangan dunia dan akherat.
  3. Membebaskan manusia dari kesewenang-wenangan sistem hidup (agama-agama selain Islam)  kepada keadilan Islam.

Realitas Ummat Islam

Namun sebagaimana penyimpangan yang telah menimpa terhadap ummat sebelumnya dari kalangan Yahudi dan Nasrani, ummat Islam juga tertimpa penyakit yang sama kecuali yang dirahmati Alloh Subhanahu wa Ta’ala yakni wujudnya perpecahan dikalangan mereka. Hal ini telah dinubuwwatkan oleh Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

" Kalian pasti akan mengikuti tradisi umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekalipun mereka masuk lubang biawak, kalian pasti mengikutinya. "Kami bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : 'Siapa lagi kalau bukan mereka!" [Hadits Riwayat AL-Bukhari (Fathul Bari, 8/300) dan Muslim hadits no. 2669]

Dan sabdanya pula:

" Umat Yahudi telah terpecah-belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan umat Nasrani telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sementara umat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan (hingga lebih banyak perpecahannya dari kaum Yahudi dan Nasrani)" (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya'la Al-Maushili, Ibnu Abi Ashim, Ibnu Baththah, Al-Ajurri, Ad-Darimi, Al-Lalikai dan lain-lain).

Perpecahan yang sedemikian parah ini menyebabkan tidak tertunaikannya  visi dan misi utama ummat Islam secara benar dan utuh. Dimana dengan sendirinya juga mengancam nasib kemanusiaan secara umum, disamping membahayakan posisi kaum muslimin itu sendiri. Ummat Islam akan jadi bulan-bulanan kaum kuffar dan sulit mempertanggungjawabkan kewajiban mereka di hadapan mahkamah Alloh kelak di Yaumil Akhir. Wallohul Musta’an!

Pada puncaknya, kebanyakan kaum muslimin justru tidak lagi mengenali ajaran agamanya bahkan merasa asing dengan Diinul Islam yang dianutnya. Sebagaimana Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :

بدأ الإسلام غريبا و سيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء

Islam bermula asing dan akan kembali asing sebagaimana mulanya, beruntunglah orang-orang yang asing itu". (HR. Muslim, Kitab Al Iman : 1/130, Nomor 232)

Era Penindasan Global terhadap Kaum Muslimin

Perang global terhadap terorisme yang dikumandangkan Amerika dan diikuti sekutu-sekutunya dari kelompok negri-negri Kristen dan Komunis serta negri-negri berpenduduk kaum muslimin yang telah tunduk kepada Amerika, pada hakekatnya adalah perang terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena faktanya, semua yang disebut teroris atau organisasi teroris adalah kaum muslimin dan organisasi Islam yang tegas tidak mau berkompromi dengan Amerika dan sekutunya.

Amerika dan sekutunya menjatuhkan ribuan ton bom di Iraq dan Afghanistan, membantai kaum muslimin dengan tidak memandang apakah mereka itu bersenjata atau tidak, membunuhi dan mempermalukan wanita muslimah bahkan anak-anak. Namun PBB tidak memasukkan Amerika dan sekutunya sebagai teroris, kenapa ?

Karena PBB, menurut Muhammad Iqbal, tidak lebih dari perwujudan parlemen Iblis yang memiliki visi pokok untuk mencegah kebangkitan kaum muslimin menuju kejayaan Islam. PBB melegitimasi penjajahan gaya baru terhadap negri – negri kaum muslimin oleh Barat yang kufur.

Dan kekufuran itu satu millah, maka jelas siapa dan Negara manapun selama tidak menjadikan Islam sebagai ideologinya pasti akan menargetkan Islam dan kaum muslimin sebagai musuh bersama. Kebolehan mereka dalam menghancurkan potensi dan kekuatan kaum muslimin adalah dengan terlebih dahulu melabelkan Terorisme. Karena kata ini dipahami masyarakat luas sebagai extra ordinary crime (kejahatan luar biasa) yang bisa dipastikan apabila kata teroris disematkan kepada seseorang atau sebuah kelompok muslim maka praktis ia atau kelompok itu akan menjadi common enemy (musuh bersama). Sementara defenisi terorisme menjadi monopoli mereka, mengerikan sekali. Mereka dengan leluasa melibas dan membantai siapa saja yang dituduh teroris.

Titik Terang Kebangkitan Ummat Islam

Berdasarkan taujih nabawiyah dari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya, muncullah titik terang dan harapan bagi ummat Islam akan kembalinya kekhalifahan yang berpedoman dengan Manhaj Kenabian. Sebuah tatanan politik dunia Islam yang bersatu akan kembali untuk terakhir kalinya sebelum dunia dihancurkan Alloh Azza wa Jalla dengan huru–hara Kiamat yang dijanjikanNya.

Kelompok kaum muslimin yang akan menghasung ide luhur ini adalah mereka yang oleh Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam dinamakan sebagai Thoifah Al Manshuroh sebagaimana sabda beliau dalam haditsnya :

“Terus-menerus ada kelompok dari ummatku yang mereka tetap tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah ( Hari Kiamat ) dan mereka dalam keadaan seperti itu “.

Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Tsauban rodhiyallohu ‘anhu dan semakna  dengannya diriwayatkan oleh Bukhory dan Muslim dari hadits  Mughiroh bin Syu’bah dan Mu’awiyah rodhiyallohu ‘anhuma  dan diriwayatkan  oleh Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallohu ‘anhu.

Sedangkan jalan yang ditempuh kelompok ini adalah Ad Dakwah wal Jihad dalam makna syar’i yang sebenar-benarnya. Dakwah disini bisa kita artikan sebagai upaya melakukan perubahan dari situasi kondisi yang terancam azab Alloh kepada situasi kondisi yang dijanjikan diturunkannya rahmat, maghfiroh dan ridhoNya. Sedangkan Jihad adalah upaya yang dapat menjamin berjalannya perubahan yang baik itu secara lurus dan berkelanjutan hingga keseluruh dunia. Kedua upaya ini tidak boleh dipisah-pisahkan hingga kemudian menjadi dikotomi yang antagonis.

Jadi, para Da’i yang dipimpin para Ulama yang lurus merupakan patner para Mujahidin yang ikhlash. Membuat jurang antara dua kelompok ini jelas perbuatan yang akan merusak karakter Thoifah al Manshuroh itu sendiri. Jadi kalau ada kelompok yang mengaku penganut manhaj Salaf akan tetapi menihilkan Jihad dengan memberi syarat-syarat bid’ah pada pelaksanaan kewajiban Jihad sampai selalu mencela dan memusuhi kaum Mujahidin maka pastilah mereka bukanlah Salafi sejati. Sebaliknya, siapa saja yang mengaku berjihad tapi memusuhi Ulama secara serampangan dan menjauhi ilmu lantaran dianggap menyulitkan atau apapun alasannya, maka mereka sesungguhnya juga bukanlah Mujahid hakiki.

Thoifah al Manshuroh mestinya berisi dua kelompok istimewa dari ummat ini, yaitu Ulama yang mewarisi ilmu dan meniru karakter luhur kenabian dengan para Mujahidin yang ikhlash, cerdas, terampil dan berani. Dimana kedua ini bersinergi dalam kepatuhan kepada Alloh Jalla wa ‘Alaa. Insya Alloh, dengan begitu harmonisnya dua kelompok ini maka kaum Muslimin akan meraih kembali kejayaan sebagaimana yang pernah diperoleh para pendahulu ummat ini yang sholeh. Wallohu Ta’ala A’lam.

Disinilah, mungkin kita bisa menjadi lebih mudah dalam memahami maksud Imam Malik rohimahulloh dalam perkataannya:

لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

“Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.”

Dimana hal itu berarti bahwa perbaikan ummat hanya bisa dtempuh dengan membangun kembali gerakan Ummat Islam yang berorientasi dan berjalan pada apa yang telah dibentangkan oleh para Salafus Sholeh. Yakni gerakan  yang mengikuti golongan salafus sholeh dalam tashawwur dan fikrahnya, dimana manhaj dan thariqahnya terbebas sama sekali dari warisan pemikiran yang menyimpang, yang terdapat pada pemikiran golongan Asy’ariyah dan golongan Maturidiyah, serta selamat sepenuhnya dari pengaruh-pengaruh thariqah golongan Sufi yang sesat. Gerakan yang  tidak menganut madzhab dan thariqah apapun selain thariqah Al Kitab dan As Sunnah dengan  senantiasa mengetahui dengan persis keadaan manusia-manusia yang hidup di zamannya, sehingga langkah-langkah perjuangannya selalu berkiblat kepada  perjuangan para Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in serta para ‘Ulama yang selalu setia mengikuti langkah-langkah mereka.

Adapun berbagai kelompok kaum muslimin yang mengklaim melakukan perubahan ataupun pembaharuan kondisi Ummat Islam namun jika setelah ditimbang dengan ‘ulumul syar’i yang lurus terbukti menyelisihi Salafus Sholeh dalam aqidah dan manhaj maupun thoriqohnya maka bisa dipastikan kesesatannya sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla:

“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An NIsaa’: 115)

Posisi JAT dengan Harapan Kebangkitan Ummat Islam

JAT adalah tandhim (tatanan) perjuangan ummat Islam yang telah mengambil ijtihad Ustadz Abu Bakar Ba’asyir fakallohu asroh untuk tampil ke permukaan secara utuh dari segi nilai Diinul Islam dan mengaktualisasikan dengan sekuat tenaga segala kesempurnaan dan keindahan Syari’at Islam.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengajak para aktivis Islam di Indonesia yang telah terbiasa dengan metode organisasi rahasia/bawah tanah (karena menghadapi tekanan orde baru) untuk bangkit dan menunjukkan eksistensinya secara nyata di masyarakat dan menegakkan prinsip jahriyatuddakwah wa jahriyatuttandhim.

Dengan konsep jahriyyatud dakwah dan jahriyyatut tandhim, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berharap terjadinya proses sharing (saling berbagi dan beradu konsep) pemikiran dan ‘ulumuddin dengan jama’ah-jama’ah yang ada di Indonesia, sekaligus menjembatani adanya dialog dengan jama’ah-jama’ah yang merindukan tegaknya syariat Islam di Indonesia.

Bagi beliau, proses dialog dan pembinaan terhadap jama’ah-jama’ah yang ada di Indonesia tersebut akan mempermudah proses penyatuan antar jama’ah yang ada, sehingga terwujud suatu kekuatan umat yang bersatu dan saling menguatkan.

Jadi keberadaan Jama’ah Anshorut Tauhid harus dipahami sebagai sebuah wahana yang dibangun untuk memberikan sebanyak-banyaknya manfaat bagi Islam dan kaum muslimin berdasarkan ukuran Syari’at dan bukan sebaliknya. Dan kemanfaatan yang teramat besar dan sangat agung nilainya bagi kemanusiaan bahkan untuk alam semesta seluruhnya, adalah jika kita semua mampu menyampaikan dan menegakkan Tauhidulloh di muka bumi ini, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. 

Fitnah dan Rekayasa Terorisme Penguasa terhadap JAT

Jelang sehari memasuki bulan Ramadhan 1431 atau bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 2010 pada sekitar pukul 08.00 pagi, Amir JAT, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir disergap oleh Densus 88 Mabes Polri dalam perjalanan pulang didepan Mapolres Banjar Patroman seusai berkeliling Tabligh di Jawa Barat. Hal mana telah didahului dengan penggrebekan Markaz JAT Wilayah Jakarta dan penangkapan beberapa pimpinan dan anggota JAT selang 3 bulan sebelumnya. Dimana sebuah LSM yang menjadi perpanjangan kepentingan kuffar, yakni Internasional Crisis Group pada bulan Juli 2010 -tepat sebulan sebelum penangkapan ust. Abu- merilis laporan yang mendiskreditkan JAT dengan judul The Dark Side of JAT.

Mulai saat itu nama Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) seringkali dikaitkan dengan aksi kekerasan dan terorisme, hal ini terlihat dari berbagai kasus seperti pelatihan militer di Aceh yang dinilai ada kaitannya dengan JAT, pemboman di Masjid Az Zikro Mapolres Cirebon serta pemboman di GBIS, Kepunton, Solo beberapa waktu yang lalu serta aksi kekerasan terhadap keberadaan gereja yang dianggap illegal ataupun gerakan-gerakan anti Ahmadiyah selalu dikaitkan dengan organisasi ini.

Tentu saja kita mengimani bahwa kejadian buruk itu adalah bagian dari ujian keimanan kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dimana jika kita tetap sabar dan istiqomah dalam menjalani ujian tersebut maka Alloh akan meninggikan derajat kita disisiNya, insya Alloh. Namun tidak dapat kita pungkiri, bahwa secara faktual ujian melalui fitnah dari penguasa RI ini memberi pukulan yang sedikit banyak berpengaruh pada jalannya perjuangan JAT. Paling tidak, ummat terhalang untuk mengetahui dakwah tauhid secara langsung dan terang dari Ustadz Abu Bakar Ba’asyir seperti pada saat sebelum Amir Jama’ah kita ini ditangkap.

Hikmah Dibalik Musibah

Sekalipun begitu, kita masih terus saja harus bersyukur kepada Alloh Jalla wa ‘Alaa karena musibah yang melanda Jama’ah Anshorut Tauhid masih belum apa-apa jika dibandingkan kejadian yang menimpa banyak kaum muslimin diberbagai negri yang sedang dizholimi para penjajah kafir dan kejahatan para penguasa negri mereka yang kebanyakan telah murtad.

Ujian berupa musibah yang ditimpakan Alloh melalui tangan-tangan orang kafir bukan melulu keburukan, akan tetapi juga mengandung pintu kebaikan. Dialah yag mengantarkan seseorang atau sekelompok orang ke derajat yang lebih tinggi dan memperkuat hubungan kepada Alloh. Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن من أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

"Diantara manusia yang paling keras ujuannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang sesudah mereka dan orang-orang yang selanjutnya" (HR. Imam Ahmad di dalam Musnadnya: 6/369 Nomor hadits : 27124. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah : 2/66)

Dan memang Alloh Subhanahu wa Ta’ala selalu menguji hamba-hambaNya agar IA mengetahui kadar kecintaan hamba-hambaNya itu, sebagaimana yang disabdakan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam:

إن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم، فمن رضي، فله الرضا، ومن سخط، فله السخط

''Sesungguhnya jika Allah (akan) mencintai sekelompok kaum maka diujilah mereka. Maka barang siapa rela (menerimanya) maka baginya adalah kerelaan (Allah), dan barang siapa murka maka baginya adalah kemurkaan dari Allah.'' (HR Tirmidzi).

Oleh karenanya, bentuk kesyukuran itu adalah mensikapi musibah yang menimpa Jama’ah dengan semakin menguatkan tekad perjuangan untuk senantiasa memurnikan nilai dan sistim perjuangan Jama’ah selaras kehendak Alloh dan RasulNya. Dan bukan justru merusak jalannya perjuangan dengan menjerumuskan JAT kedalam penyimpangan sekecil apapun dari Aqidah dan Manhajnya.

 Asy Syahiid Sayyid Qutb rohimahulloh berkata:

الاِنْحِرَافُ اَلطَّفِيْفُ فِي أَوَّلِ الطَّرِيْقِ يَنْتَهِي إِلَى الْاِنْحِرَافِ اَلْكَامِل فِي نِهَايَةِ الطَّرِيْقِ

Penyimpangan yang sedikit pada awal dakwah akan berakhir dengan penyimpangan yang sempurna diakhirnya. [ diambil dari buku al Qobidhul Jamar karya Syaikh Abu Mus'ab az Zarqowi rohimahulloh ].

Dan lebih dari itu, bahkan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dalam sabdanya:

ان لكل عمل شره ولكل شرة فتره فمن كانت فترته الى سنتي فقد اهتدى ومن كانت فترته الى غير ذلك فقد ضل

“ Bagi setiap amal itu ada masa (puncak) semangatnya dan bagi setiap semangat itu ada masa lemah (malas)nya. Barangsiapa yang tetap mengikuti sunnahku pada masa lemah (malas)nya maka sungguh ia telah mendapat hidayah namun barangsiapa yang pada masa lemahnya ia justru mengikuti selain sunnahku maka ia tersesat.” (HR. Ibnu Hiban dengan sanad shohih menurut syarat Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Jadi ketika ujian demi ujian datang menimpa dan mengakibatkan munculnya kekurangan serta kelemahan, maka sudah seharusnya justru  membuat kita semakin kuat dalam memegang prinsip-prinsip perjuangan yang tertuang dalam Aqidah dan Manhaj Jama’ah bukan malah menyepelekan apalagi mengabaikannya. Sebab musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhenti memerangi kaum muslimin dengan segenap kemampuan mereka agar kaum muslimin kembali kafir (murtad).

JAT dan Jihad Global

Sebagai sebuah kelompok dari Kaum Muslimin yang menyadari hakekat Perang Eksistensi disepertiga abad pada awal paruh seratus tahun ke-15 Hijriyah ini, Jama’ah Anshorut Tauhid berusaha memposisikan diri untuk juga mampu mengambil peran perlawanan bersama kaum muslimin lainnya terhadap kekuatan kufur lokal maupun global dalam segenap kemampuan yang dimilikinya. Tampak jelas dalam Khiththoh JAT bagian Latar Belakangnya, JAT berupaya membangun kesadaran para a’dho-nya dan kaum muslimin pada umumnya terhadap realitas sejarah dan kekinian sehingga diharapkan entitas JAT bersama kaum muslimin sanggup memasuki medan makro realita dalam pertarungan eksistensi yang memiliki doktrin: To Be or Not To Be. Jika kita tidak mampu melawan apalagi sudah kehilangan kemampuan bertahan maka bisa dipastikan datangnya kepunahan.

Dalam fiqh Islam, Jihad sebagai puncak pengabdian yang menjadi tulang punggung Ummat Islam terbagai menjadi 2 (dua) bagian yakni: Jihad Thulabi (ofensif) dan Jihad Difa’i (defensif). Ketika wujud kedaulatan kaum muslimin, maka jihad thulabi hukumnya menjadi fardhu kifayah. Sedangkan ketika musuh menyerang maka jihad difa’i hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi seluruh kaum muslimin. Rincian fiqihnya tidak kita bahas disini, yang ingin kami sampaikan bahwa Jihad adalah aktualisasi ketahanan kaum muslimin yang mana ketiadaan Jihad mengakibatkan matinya tubuh kaum muslimin dan hancurnya eksistensi mereka.[1] Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala sendiri menyebut seruan jihad sebagai sesuatu yang menghidupkan.

Perhatikan firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu[2] ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS Al Anfaal: 24-25)

Bahkan dari ayat diatas, Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak menjamin bahwa orang-orang yang meninggalkan seruan Jihad akan selamat dari azab Alloh ketika IA akan mengazab orang-orang zalim secara menyeluruh.

Kelompok kaum muslimin dari ahlul Ilmi dan ahlul Jihad yang mampu melakukan perlawanan bersenjata di medan-medan Jihad hari ini di seluruh dunia hingga mampu menyerang posisi dan kepentingan musuh Islam di negri-negri mereka adalah kelompok yang disebut sebagaimana sebutan dalam banyak hadits tentang Thoifah Manshuroh. Dari mereka yang masih hidup dan melanjutkan perlawanan betul-betul hidup badan dan imannya, bahkan ketika mereka mendapatkan kesyahidan, merekapun hidup disisi Rabb-nya dengan dilimpahi rizqi yang mulia.

Alloh Azza wa Jalla memuliakan para Mujahidnya itu di medan-medan Jihad dengan kedatangan musuhnya yang membawa segenap persenjataan dan harta benda dimana semua itu bisa menjadi rampasan perang yang akan membiayai hidup dan jihad mereka. Jadi hidup kaum muslimin sudah semestinya untuk jihad sehingga Alloh akan menghidupi mereka dengan mulia !

Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بعثت بين يدي الساعة وجعل رزقي في ظل رمحي وجعل الذل والصغار على من خالفني ومن تشبه بقوم فهو منهم

“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang,  dijadikan rejeki ku di bawah naungan tombak ku. Dan kehinaan terhadap siapa  saja yang menyelisihi urusanku.Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka itu ” (HR. Ahmad)

Perhatikanlah nasib kaum muslimin yang meninggalkan Jihad dengan sederetan alasan dan dalil-dalil yang diselewengkan, mereka memang tidak didatangi dan dibantai oleh persenjataan musuh Islam tapi mereka dihujani dengan bom-bom kesesatan berbentuk aliran menyimpang dan ranjau-ranjau kemaksiatan hingga disibukkan perhatian dan waktunya hanya untuk sekedar cari makan. Bahkan betah hidup panjang dalam kehinaan. Jadilah hidup yang tersesat, dimana hidup untuk (cari) makan dan harga dirinyapun jatuh lebih rendah dari hewan yang biasa mereka jadikan tunggangan. Na’udzubillahi min dzalika!

Imam Bukhori dan Imam Muslim sebagai ulama periwayat hadits terpercaya yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin, meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi :

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ( أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دمائهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله تعالى ) متفق عليه

Dari Ibnu Umar semoga Alloh meridhoi keduanya, Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam berkata: “ Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah melainkan Alloh dan Muhammad Utusan Alloh, menegakkan sholat, menunaikan zakat jika mereka melakukan hal yang demikian maka terjagalah dariku akan darah dan harta mereka kecuali dengan haq Islam dan perhitungannya terserah Alloh.” (muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini merupakan tafsir fi’liyah yang dipraktekkan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam dari perintah Alloh Azza wa Jalla dalam Al Qur-an surah Al Baqoroh ayat 193 yang berbunyi:

 

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”

Dan surah Al Anfaal ayat 39:

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.”

Dalil-dalil kebenaran diatas dapat kita sebut sebagai perintah yang syah bagi kaum muslimin akan keharusan berperang melawan kekufuran dengan segenap pendukungnya secara total dan global, namun faktanya kita dibenturkan dengan slogan-slogan yang memutar-balikkan kenyataan. Yang intinya adalah menghambat bahkan memusnahkan niatan kaum muslimin untuk berperang bahkan walau hanya sekedar mempersiapkan diri saja.[3] 

Dimana dengan pembohongan publik tersebut diharapkan kaum muslimin hanya hidup berfokus pada upaya menikmati fasilitas duniawi bahkan berpasrah diri atas penderitaan yang mereka alami. Dalam benak kaum muslimin ditanamkan bahwa suka maupun derita dalam realita hanyalah bagian taqdir yang cukup diterima tanpa boleh ada daya untuk merubahnya. Disisi lain, kaum muslimin disesatkan dengan mitos sekuler bahwa segala kenikmatan yang didapatkan adalah semata-mata hasil dari jerih payah dirinya sendiri tanpa ada izin apalagi campur tangan Alloh Yang Maha Kuasa.

Praktek keyakinan bathil mazhab sesat pecinta ilmu kalam dari kaum Jabariyah dan Qodariyah itulah yang hendak ditumbuh-suburkan para penguasa Zhalim terhadap kaum muslimin. Sedangkan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan bahwa Jihad (dalam makna syar’i sebagai berperang dijalan Alloh) akan senantiasa berlangsung hingga Yaumil Qiyyamah, berusaha digantikan dengan paham Aswaja palsu yang bukan saja mendiamkan kezhaliman namun ikut foya-foya dan rela menikmati hasil kezhaliman bersama para Thughyaan.

Sementara itu, dakwah para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam membuat silau sebagian kalangan menengah baik bawah maupun atas dengan menutup ayat-ayat Jihad Qitaliyah melalui kebodohan mereka akan pengertian Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin berdasarkan Qur-an surah Al Anbiyaa’ ayat ke 107. Padahal Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam sendiri sebagai manusia pilihan yang dipercaya Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang sebagai RasulNya, mempraktekkan ayat tersebut dengan melakukan peperangan selama 8 atau 9 tahun terakhir kehidupan beliau, yakni tidak kurang dari 60 kali perang kecil maupun besar.

Hingga dalam sebuah haditsnya, Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam jelas menuturkan:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“Barang siapa yang mati tapi belum pernah berperang dan tidak terlintas dalam dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam cabang kemunafikan.”(HR. Muslim)

Maka bagi kita yang belum dimuliakan dengan Jihad hendaknya membangun ketahanan diri dan kelompok dari infiltrasi penyimpangan aqidah. Sehingga dalam madah Aqidah dan manhaj JAT sebagai dokumen resmi jama’ah, nomor 9 tentang Shahabat ridhwanulloh ‘alaihim ajma’in (dimana kalangan Syiah selalu berupaya dengan berbagai cara hina dan keji memecah belah mereka) berbunyi:

“ Kami ridlo dengan seluruh sahabat dan wajib mengikuti jejak mereka,  mereka itu semuanya ‘uduul dan kami tidak mengatakan mengenai mereka selain yang baik-baik. Mencintai mereka itu hukumnya wajib bagi kami dan membenci mereka itu merupakan kemunafikan bagi kami. Dan kami menahan diri terhadap apa-apa yang mereka pertikaikan di antara mereka, yang dalam hal itu mereka melakukan ijtihad, dan mereka adalah sebaik-baik generasi. “

Inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dianut dan akan dibela mati-matian oleh JAT, sementara kalangan Syiah dan para pembebeknya dimanapun termasuk di negri ini dengan diam-diam atau terang-terangan mencaci maki sebagian Shahabat dan mengagung-agungkan yang lainnya untuk menghancurkan alur shohih Diinul Islam. Dengan begitu, kaum Syiah berharap agar kaum muslimin bisa ragu terhadap Diinul Islam yang dianut para Salafus Sholeh dan mereka menyuntikan paham nista mereka kepada kaum muslimin yang akan dijadikan sebagai tonggak dan kayu bakar revolusi Syiah yang menipu.

Dalam madah yang sama nomor ke- 2 dengan tegas dan keras, JAT menyatakan: 

“Kafir murtad itu lebih berat daripada kafir asli berdasarkan ijma’. Kafir murtad itu antara lain golongan Syi’ah Rafidhah  yang meyakini adanya Qur’an lain yang disebut dengan mushaf Fathimah dan mengkafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dan Ahmadiyyah yang mengaku adanya nabi setelah nabi Muhammad shollallohu ’alaihi wa sallam.”

Jihad Suriah Jihad Kita

Kaum muslimin Suriah tampaknya dirahmati Alloh Jalla wa ‘Alaa dengan bangkitnya Mujahidin Ahlus Sunnah melawan tirani Syiah Nushairiyah yang berkoalisi dengan Syiah Imamiyah dari Iran, Irak, Yaman dan Libanon serta aliansi Komunis China dan Rusia. Hikmah yang begitu mahal dan harus dibayar dengan pembantaian keji Rezim Basyar Asad terhadap ribuan pemuda, orangtua, wanita bahkan anak-anak balita. Namun itulah hukum perubahan, semoga Alloh menguatkan kaum Muslimin Suriah dan memenangkan para Mujahidin mereka serta menyatukan hati, jiwa dan (insya Alloh) fisik kita dengan mereka yang bangkit dalam kemuliaan jihad !

Perhatikan hadits di bawah ini dengan cermat, karena ada rahasia nubuwwah yang mengkaitkan pergolakan di Syam yakni di wilayah Suriah, Lebanon, Yordania dan Palestina dengan wujudnya kelompok ahlul iman yang hidup di akhir zaman dimana mereka berperang di Syam.

Artinya: ”Dari Salamah bin Nafil Al Kindi berkata: adalah aku duduk-duduk bersama Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam lalu ada seorang lak-laki berkata: ‘Wahai Rasulullah! Manusia telah meremehkan kuda, mereka telah meletakkan senjata dan mereka berkata: Tidak ada jihad, perang telah usai.’ Maka Rasulullah menghadapkan wajahnya (kepadanya) seraya berkata: ‘Mereka telah dusta, sekarang telah tiba giliran perang dan senantiasa akan ada dari ummatku, satu ummat yang berperang membela kebenaran dan Allah menjadikan condong kepada kesesatan untuk mereka (para mujahidin) hati-hati kaum (kuffar) dan memberi rizki kepada mereka (para mujahidin) dari mereka (harta benda orang-orang kafir) hingga hari kiamat dan sehingga datang janji Allah. Dan kuda telah terikat pada ubun-ubunnya ada kebaikan sampai hari kiamat. Dan sesungguhnya Ia telah mewahyukan kepadaku bahwasanya sebentarlagi aku akan diwafatkan, dan kamu akan menyusulku kelompok demi kelompok, yang mana sebagian kamu akan memukul tengkuk-tengkuk sebagian yang lain, dan tempat tingggal negeri kaum muslimin di Syam…”  (H.R. Imam An-Nasa’I dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)

Juga perhatikan hadits yang panjang berikut ini:

 “Dari Yusair bin Jabir, dia berkata, “Angin merah bertiup (telah terjadi kekacauan) di kota Kufah. Setelah itu, seorang laki-laki datang sambil berseru, ‘Hai Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya kiamat telah datang!’

Yusair berkata, “Kemudian laki-laki itu duduk, sedangkan Abdullah bin Mas’ud duduk sambil bersandar. Lalu Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi kecuali setelah harta warisan tidak dibagikan dan harta rampasan perang tidak membuat gembira.’

Setelah itu Abdullah bin Mas’ud berkata seraya menunjukkan tangannya ke arah Syam, ‘Di sana ada musuh yang akan menyerang orang-orang Islam dan orang-orang Islam pun akan menyerang dan menghadapi mereka. Saya bertanya, ‘Apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Romawi?’

Abdullah bin Mas’ud menjawab, ‘Ya.’

Dalam peperangan tersebut telah terjadi perlawanan yang sangat sengit. Orang-orang Islam mempersiapkan pasukan berani mati yang tidak akan kembali ke garis pertahanan kecuali dengan membawa kemenangan. Mereka bertempur sampai datang waktu malam. Setelah itu, kedua belah pihak bubar dan kembali ke garis pertahanan semula tanpa ada yang membawa kemenangan. Gugurlah kesepakatan itu.

Kemudian orang-orang Islam mulai mempersiapkan lagi pasukan berani mati yang biasanya tidak akan kembali ke garis pertahanan kecuali dengan membawa kemenangan. Mereka bertempur sampai datang waktu malam. Setelah itu, kedua belah pihak bubar dan kembali ke garis pertahanan semula tanpa ada yang membawa kemenangan. Gugurlah kesepakatan itu.

Lalu orang-orang Muslim mulai mempersiapkan lagi pasukan berani mati yang biasanya tidak akan kembali ke garis pertahanan kecuali dengan membawa kemenangan. Mereka bertempur sampai datang waktu malam. Setelah itu, kedua belah pihak bubar dan kembali ke garis pertahana semula tanpa ada yang membawa kemenangan, dan kesepakatan kembali gugur.

Pada hari keempat, pasukan kaum Muslimin yang tersisa mulai menyerang musuh. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menimpakan kekalahan kepada orang-orang Islam meskipun mereka bertempur dalam pertempuran yang tak pernah terlihat pertempuran seperti itu, hingga burung-burung pun turut bertempur mengiringi mereka sampai jatuh dan binasa.

Setelah itu ada seratus orang yang bersaudara yang ikut pertempuran, mereka semuanya binasa kecuali hanya seorang. Maka harta rampasan perang apa yang dapat membuatnya bergembira? Atau harta warisan mana yang akan dibagi-bagikan?

Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba mereka mendapat cobaan yang lebih besar lagi. Seorang laki-laki mendatangi mereka seraya berkata, ‘Sesungguhnya Dajjal telah mendatangi anak cucu kalian.’

Akhirnya mereka membuang apa yang ada di tangan mereka. Lalu mereka bersiap-siap dengan menugaskan sepuluh orang pasukan berkuda sebagai pengintai.

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh aku mengetahui nama-nama mereka, nama-nama ayah mereka, dan warna kuda-kuda mereka. Mereka semua adalah pasukan berkuda yang terbaik pada saat itu.” (HR. Muslim)

Refleksi Ramadhan dan Keistiqomahan dalam Perjuangan

Dalam bulan Ramadhan ini , Alloh melimpahkan berbagai macam keutamaan idalamnya. Oleh karena itu , kita tidak boleh menyia-nyiakan momentum Ramadhan ini dan harus mengisinya dengan berbagai amalan yang akan mendekatkan diri kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam makna :

  1. Taqarrub kepada  Alloh dengan berbagai amal ibadah mahdhoh agar mendapatkan ketenangan hati (muthma’inatul Qolb), hal mana boleh menghadirkan keteguhan (ats Tsaba ) dan keberanian (asy Syaja’ah) dalam menjalani kehidupan dengan berbagai problematikanya , sehingga kita tetap istiqomah sampai ajal menjemput kelak .

    2.  Taqarrub kepada Alloh dengan berbagai upaya agar pemahaman kita terhadap diinul Islam sebagaimana yang dikehendaki Alloh dan RasulNya yaitu dengan upaya-upaya tafaqquh fiid diin dimana dengan begitu kehidupan yang kita warnai dengan perjuangan selalu berada pada prinsip – prinsip aqidah dan manhaj yang benar  .

Ihkwati fillah , kita patut juga merenungkan bulan – bulan Romadhon yang telah kita lalui sepanjang umur hingga sekarang . Bahwasanya nasib kaum muslimin diberbagai penjuru dunia belum lagi memperoleh status Khoiru Ummah bahkan masih menjadi ‘pelengkap penderita’ dari sebuah bangsa atau komunitas yang enggan menerapkan hukum Alloh Azza wa Jalla . Hal ini disebabkan kita belum mampu menghargai momentum Ramadhan dengan tidak sungguh–sungguh beramal dalam momentum yang mulia ini .

Maka semua amaliyah Ramadhan pada hakekatnya, menurut Asy Syahid Sayyid Qutb rohimahulloh, memberikan tiga faedah pokok setelah melimpahnya ganjaran dan keutamaan didalamnya, yakni:

  1. Amaliyah Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk memiliki kemauan yang kuat (irodatul qowwiyah) dalam mengabdikan seluruh kehidupannya kepada Alloh Azza wa Jalla padahal tarikan duniawi dan godaan Syaithon juga tidak kurang kuatnya .
  2. Amaliyah Ramadhan juga meningkatkan daya pikul (taqwiyatul ihtimal) dalam mengemban amanah Risalah yang dibebankan kepada kaum muslimin dimana amanah Risalah hanya bisa ditegakkan diatas dua pilarpenting yakni  Al ijtihad dan Jihad. Artinya ada dua golongan dalam ummat ini yang pantas menjadi golongan utama untuk menunaikan amanah Risalah yaitu Al ‘Ulama dan Al Mujahid. Ketika dua type manusia terbaik ini ada pada sebuah kelompok kaum muslimin maka inilah kelompok yang disebut Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa salam sebagai Thoifah Manshuroh.
  3. Amaliyah Ramadhan pada akhirnya mempersiapkan perbekalan psikis dan fisik berupa ketaqwaan dan kesehatan kepada kaum muslimin agar mereka memiliki kecukupan untuk menjadikan waktu–waktu kehidupannya dalam memperkokoh keyakinan (aqidah) dan memperhebat perjuangan (jihad). Karena tidak ada kehidupan yang berarti melainkan harus diisi dengan kokohnya aqidah dan jihad yang ditunaikan .

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengaruniai kita dengan taufiq dan hidayah untuk selalu berupaya istiqomah dan terus beramal sholeh, sungguh istiqomah adalah buah amal sholeh yang secara terus menerus kita lakukan.

Istiqomah yang semestinya didasari pada upaya terus menerus untuk:

  1. Tashfiyatul Aqidah, yakni memurnikan keyakinan tauhid agar menjadikan Alloh sebagai satu-satunya Dzat yang wajib diibadati (tauhidul ‘ibadah) dengan mencontoh kepada satu-satunya qudwah hasanah kita, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam (tauhidul ittiba’).
  2. Tajdiidul ‘Amal, yakni meluruskan praktek berkehidupan kita agar selaras dengan aturan-aturan Syariat Islam yang lengkap dan sempurna, mulai dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan pergaulan internasional.
  3. Tahriirul Ummah, yakni terlibat aktif dalam membebaskan semua penderitaan kaum muslimin diberbagai belahan dunia dengan menunjukkan kepedulian dan kebersamaan kita, baik dalam hati, do’a bahkan aksi nyata.

Dari refleksi ini kita semua berharap semakin dapat meningkatkan kesadaran diri terkait adanya permusuhan Syetan dan balatentaranya dari kalangan Jin dan Manusia, kemudian kita formulasikan dengan kepahaman yang mendalam terhadap ilmu-ilmu Syar’i serta pengetahuan akan medan amal yang melingkupi zaman kita.

Pada akhirnya, kita bermohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar IA selalu memaafkan dan mengampuni kesalahan serta dosa-dosa kita, kesalahan dan dosa semua orang beriman, juga kita bermohon kepadaNya agar IA melimpahkan pertolonganNya kepada segenap kaum muslimin dan terkhusus kaum mujahidin agar IA memenangkan Diinul Islam melalui jihad dan kesabaran mereka, amiin yaa Mujibas sailin !

Akhirul Da’wana anil hamduliLlahi Robbil ‘Alamiin, wa sholatu was salamu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

 


[1] Parahnya lagi adalah munculnya kaidah-kaidah bid’ah yang dikembangkan beberapa kelompok yang seolah berlawanan tapi memiliki peran sama dalam menihilkan Jihad, seperti kaidah “Jihad tanpa Kekerasan”, “Tidak ada Jihad sebelum ada Khilafah” ataupun “Berjihad Dibelakang Ulil Amri”. Slogan yang terakhir ini menisbatkan para penguasa di 60-an negri-negri yang dihuni kaum muslimin sebagai Ulil Amri sekalipun para penguasa itu mengkhianati Islam baik aqidah maupun syari’atnya. Jangan lagi menyoal perilaku mereka yang tasyabuh bilkuffar.

 [2] Maksudnya: menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk Jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. (Footnote dalam Terjemah Qur-an Depag RI)

 [3] Lihatlah bagaimana UU RI No 15 Tahun 2003 tentang tindak Pidana Terorisme yang digunakan untuk mengkriminalisasikan para pengamal I’dad di Aceh tempo lalu.

"Negara yang berdasarkan idiologi Ciptaan manusia seperti Negara Nasionalis, Sosialis, Demokrasi, Pancasila dll adalah bentuk negara Bid'ah Mukaffiroh (Bid'ah yg menjerumuskan kepada Kekafiran) yg direkayasa oleh kafir Zionis Yahudi untuk mengotori Aqidah umat islam dan untuk memisahkan Ummat Islam dari Al Qur'an dan Sunnah." (eds 05)



Publikasi

"Negara yang berdasarkan idiologi Ciptaan manusia seperti Negara Nasionalis, Sosialis, Demokrasi, Pancasila dll adalah bentuk negara Bid'ah Mukaffiroh (Bid'ah yg menjerumuskan kepada Kekafiran) yg direkayasa oleh kafir Zionis Yahudi untuk mengotori Aqidah umat islam dan untuk memisahkan Ummat Islam dari Al Qur'an dan Sunnah." (eds 05)



Akhbar

 

JamaahAnsharutTauhid

Aqidah dan Manhaj

Berikut ini adalah aqidah dan manhaj Jama’ah Ansharut Tauhid, yang menjelaskan mengenai jati diri kami dan apa-apa yang kami sepakati
more »

Profil JAT

Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya telah memerintahkan umat manusia agar hidup berjama’ah, berkumpul, saling membantu, saling
more »

Khiththoh JAT

Khiththoh ini sebagai rencana induk (masterplan) jama’ah yang merupakan wujud nyata dari keyakinan bahwa Diinul Islam mengajarkan
more »

Kontak JAT

Sekretariat: Jl. Semenromo no.58, 04/XV Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah.
telp. 0271-2167285
Email: info@ansharuttauhid.com